Maret 16, 2013

Dunia Dania Eps.2: Hati Dania Super Duper Galau!



Kemilau indah sang mentari di ufuk Barat perlahan lenyap ditelan temaramnya senja. Siluet itu hadir mengaburkan brightness dan menimbulkan contrast yang mencolok tapi tetap terlihat unik. Cantik sekali. Waktu terbenam sang raja siang yang harus bergantian shift-nya dengan sang rembulan pun diiringi dengan gema irama adzan maghrib yang sangat merdu yang dilantunkan oleh sang muadzin.
Adzan maghrib menyeru masyarakat kota di perumahan Banjar Asri, kota Semarang. Tak banyak warga kampung Banjar Asri yang mengikuti jama’ah sholat maghrib di Masjid An Nur. Memang seperti itulah yang terjadi saat ini. Entahlah, terkadang memang menusia lebih mementingkan dunia disbanding panggilan Rabb-Nya. Pun tak terasa waktu berlalu. Tak lama, adzan Isya’ menyeruak, menerobos hiruk pikuk nuansa perkampungan kota nan sedikit terkontaminasi arus metropolitan. Jama’ah Masjid An Nur kembali melaksanakan sholat isya’ berjama’ah masih dengan makmum yang sama seperti sholat maghrib tadi. Hanya ada 3 shaf laki-laki yang ada di dalamnya. Sangat ironis memang. Sementara makmum perempuan lebih memilih untuk sholat di rumah masing-masing. Biasanya warga perempuan kampung itu hanya akan ikut sholat berjama’ah ketika sholat tharawih di bulan Ramadhan, atau hari-hari Besar ummat Islam. Pun dengan Dania. Ia lebih memilih untuk menunaikan sholat isya’ di kosnya. Ya! Kampung Banjar Asri adalah alamat rumah kosnya saat ini.
Waktu kembali berlari. Malam kian larut. Kini jam dinding di kamar Dania telah menunjukkan pukul 21.45 WIB. Ia masih terpaku di depan layar komputer 14 inch miliknya. Entah apa yang ia ketik sekarang. Namun kadang ia menghentikan tarian tangan di atas key board lalu termenung. Keadaannya saat ini agak berbeda. Ia sedikit lesu dan tak ceria seperti biasanya. Seketika ia berdiri meninggalkan computer yang masih menyala. Ia membuka laci meja sebelah kanan ranjang tidurnya. Lalu ia mengambil sesuatu dari sana. Sebuah album foto rupanya. Ia buka perlahan album itu. Ternyata, itu adalah album foto perpisahan SMA-nya dulu.
Seketika, ia membuka album itu kemudian membolak-balik halamannya. Belum lama ia membuka dan belum banyak lembaran yang ia lalui, tangannya terhenti di halaman ke-tujuh. Sejenak mata Dania tertuju pada foto sesosok pemuda.
“Astaghfirullah…”, katanya. Dengan spontan, Dania menutup kembali album itu kemudian tetesan air matanya melinang hingga berubah menjadi genangan. Genangan yang membanjiri mata hingga meluap membasahi pipi, menyeruakkan kesedihan.
Ternyata sosok yang membuatnya menangis itu tadi adalah teman sekelasnya semasa SMA, Ayyas Irfan Fannani. Seseorang yang berarti baginya sejak SMA. Namun tentu saja ia berhati-hati dengan apa yang ia rasakan. Bagi Dania, cukup hanya dirinya dan Rabb-nya saja yang tahu.
Ayyas Irfan Fannani adalah ketua OSIS sewaktu SMA dulu. Kharismanya sebagai seorang pemimpin memang tak perlu diragukan lagi. Cerdas, tegas, penuh tanggung jawab, dan berjiwa besar. Namun segala kelebihan yang ada pada dirinya itu tak menjadikannya angkuh atau sombong. Ayyas, tetaplah seseorang yang ramah dan bersahaja. Sangat pantas jika banyak teman-teman perempuannya menyukai dan menaruh simpati padanya. Tak terkecuali seorang Dania Kalyana Tantri.
Sebenarnya, Dania sadar betul bahwa perbandingan dirinya dengan Ayyas sangatlah jauh. Bagaikan bumi dan langit. Sangat tidak sekufu. Baik dari segi kepribadian, emosional, intelektual maupun spiritual. Sejauh ini, Dania memanglah sepantasnya menyembunyikan perasaannya. Ia sangat takut jika ia terjurumus pada yang syubhat, bahkan haram. Di saat teman-temannya menikmati masa muda mereka dengan seseorang yang belum halal bagi mereka, ia lebih memilih untuk tidak melakukan hal yang sama.Ia sangat takut kalau cinta yang ia rasakan bukan karena Allah, tapi karena nafsu. Naudzubillah…
Sekali lagi, tentang Ayyas. Ia memang sosok yang mudah dikagumi dan diteladani. Hal yang kontras dan signifikan jika dibandingkan dengannya. Dania yang urakan dan kerap sekali labil dalam hal intelektual, emosional, bahkan spiritual. Ia sangat menyadari hal itu. “I’m perfectly imperfect…”, katanya.
Meskipun begitu, ia tak pernah berusaha menjadi orang lain. Tak ingin naïf dan tak original. Dania adalah Dania. Ia ingin menjadi dirinya yang sesunguhnya di segala aspek kehidupan di setiap sudut paradigma. Banyak sekali tulisan-tulisan karyanya yang mengungkapkan hal itu. Ya! Dania sering meluangkan waktunya untuk mempuat tulisan. Menggoreskan pena… maupun menarikan jemari lentiknya di atas tombol Key Board. Dania suka menulis deretan syair dan puisi. Puisi tentang dunianya… tentang cita dan cintanya. Deretan huruf, rangkaian kalimat dan komposisi paragraf yang mengisahkan tentang keinginan dan komitmennya yg ingin menjadi dirinya sendiri, serta menjadi karakter yg sudah dianugerahkan Rabb-nya kepadanya. Yaaahh… meskipun ia juga sadar bahwa untaian dan syair yang ia buat tak seindah lirik lagu “menjadi diriku”-nya edcoustic dan tak se-booming ”This is me”-nya Demi Lovato. Namun, ia tetap akan terus berkarya…
Kembali ke soal perasaan Dania.
Saat ini Dania benar-benar jatuh dan in low. Iman memanglah teramat fluktuatif dan labil. Tak perlu diragukan lagi, kalau kata anak zaman sekarang “Dania lagi galau!”. Bahkan lebih dari itu. “Hati Dania super duper galau!”. Kegalauan dan kebimbangan memang sangat manusiawi. Tapi mau sampai kapan? Untuk apa kita galau hanya untuk hal yang tak pasti???
Dania mengusap kembali air matanya. Ia tak ingin terlalu lama dilema oleh cinta yang tak pasti. Ia berdiri dan tersenyum . “Semangat, Dania! La tahzan. Innallaha ma'ana You’ll be fine! Just stay cool !”, katanya, berusaha menyemangati dirinya sendiri. Saat tak seorang pun mengerti tentang apa yang kita rasakan, kita harus sadar hanya Allah dan diri kita sendiri saja yang mengerti. Jika kita menyadari hal itu maka kita akan selalu termotivasi. Siapa yang akan memotivasi diri kita, kalau bukan kita sendiri??? Seperti kata pepatah: “When you realize that the person who can motivate you the most is you, then you will always be motivated!”. Motifasi diri! Ya! Itu adalah cara untuk mengusir galau. And of course, the most important thing is remembering Allah. Insya Allah, dengan mengingat-NYA… hati kita tidak akan galau dan menjadi tenteram.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d: 28)
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar