September 07, 2012

Risalah Hati seorang Ukhti


Ketika cinta tiada tutur kata datang tanpa salam sapa
Ia tiba-tiba hadir menyelinap membawakan sejuta pesona
Tiada berkutik saat aku hampir mendapatkannya…
Atau bahkan kehilangannya…
Ahh, cinta…
Menapa kau selalu menebarkan rasa gelisah diantara sekat ruang rindu?
Mengapa kau slallu bungkam saat ku tanya kenapa kau datang kepadaku?
Tuhan…
Apakah cinta ini karena-Mu?
Atau hanya angan kosong yang terjebak dan terjerat akar nafsu?
Semoga tidak…
Dan, Tuhan…
Selamatkanlah cintaku agar selalu tertuju kepada-Mu

Assalamu’alaikum, sahabat fillah…

Sebelum kita mulai sharing… Boleh dunkz, kalo aku memanjatkan doa kecil pada Allah untuk kita semua… “Ya Rabb, lindungilah kami dan tuntunlah kami untuk selalu berjalan di atas jalan lurus-Mu. Teguhkanlah hati kami untuk menegakkan tali agama-Mu, dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka…” Aamiin ya Rabbal’alamiin…
Kembali ke Laptop!
C.I.N.T.A
Sosok seperti apakah ia sebenarya? Hingga kehadirannya tak terpungkiri oleh segala makhluk di semesta raya. Semua orang terbuai akan kehadirannya, terpesona akan keindahannya, ter-rayu oleh godaannya, bahagia karena ketulusannya, atau bahkan menderita karena kekejamannya...
Entahlah, yang aku tau kehadiran cinta tak pandang bulu pada siapa ia akan coba menaburkan rasa. Preman kah?  Pejabat kah? Presiden kah? Pemulung kah? Segala stratifikasi sosial tak lepas dari pengaruh dari cinta. Tak peduli kaya atau miskin… tak peduli orang jahat atau alim. Seperti yang dirasakan oleh saudari kita yang satu ini, yang ingin “curhat” terbatas tentang cinta yang sedang dirasakannya.
Sebelumnya aku ingin berterimakasih kepada seorang ukhti tersebut, yang dengan senang hati menggoreskan penanya, mengungkapkan perasaannya, kemudian menyerahkan karyanya tersebut pada redaksi RP (Relief Prasasti).
Risalah Hati seorang Ukhti yang tak ingin ditulis namanya:

Atas Nama Cinta pada Sang Maha Cinta

Inilah hatiku… dengan tidak menampik fitrah dari Rabb-ku, aku jatuh cinta padamu. Aku cinta pada caramu mencintai-Nya… aku kagum pada akhlakmu yang senantiasa berusaha ber-Iktiba’ pada Rasul-Nya… aku suka kepribadianmu yang sederhana dan apa adanya… Maka biarkan aku menyimpan segala rasa ini sampai Rabb-ku memutuskan apakah perasaan ini harus terungkap padamu atau tidak.
Disaat banyak wanita lain yang terang-terangan mengungkapkan rasa sukanya pada seseorang, aku lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Disaat banyak wanita lain bersikap ofensif meng-show off-kan perasaannya, aku lebih memilih untuk defensif… Disaat banyak orang yang telfon2nan, sms-an, BBM-an dengan orang yang disukainya, padahal masih belum halal bagi mereka… aku lebih memilih untuk menghapus nomor HP-mu dari memory card HP-ku… Karena sesungguhnya, itu adalah caraku untuk lebih bisa menjaga izzah-ku, kesucian hatiku, dan kehormatanku… Karena aku ingin membuktikan bahwa cintaku padamu bukan karena nafsu, tapi hanya karena kecintaanku pada Rabb-ku.
Sungguh Allah lah Yang Maha Mengetahui Isi hati… aku tidak tahu apakah perasaan ini hanya sekejap saja tau akan abadi selamanya. Dia yang tahu, dan aku tidak. Karena yang kutahu pasti adalah akan kupersembahkan cintaku karena Allah hanya untuk suamiku. Sedangkan aku tidak tahu apakah suamiku kelak adalah kau atau tidak. Allah yang Mengetahui jodoh hamba-hambanya, dan aku tidak. Itulah alasan dan sisi lain, kenapa aku harus menyimpan perasaan yang kurasa saat ini. Aku takut membuat suamiku kecewa. Karena aku tahu bahwa suatu saat nanti aku akan menjaga kesucian hatiku hanya untuk suamiku karena Allah. Jadi, tidak menjadi masalah kalau perasaanku tidak terungkap padamu… karena cintaku hanya akan terungkap untuk suamiku. Tidak menjadi masalah jika cintaku padamu bertepuk sebelah tangan… karena yang penting adalah cintaku pada Rabb-ku tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan. Dan Rabb-ku akan mengirimkan seseorang yang halal untuk mencintaiku dan kucintai sepenuh hati.
“Atas nama cintaku pada-Mu, Sang Maha Cinta... Sang Pemilik Cinta, Rabb Sekalian Alam… Yang Menguasai Isi Hati Manusia… … izinkan aku menitipkan cinta karena-Mu ini pada-Mu… Sampai pada suatu saat ini jika Engkau mengizinkan, aku akan mengungkapkannya pada seseorang yang telah halal untukku…”
“Ya Rabb, cintakanlah aku pada seseorang yang mencintaiku karena-Mu dan yang kucintai karena-Mu… Dan izinkanlah kami saling mencintai karena kecintaan kami terhadap-Mu. Aamiin ya Rabbal’alamiin…”
 ***
Demikianlah kawan, surat kaleng dari ukhti yang juga seorang manusia biasa. yang tak lepas dari fitrah cinta. Semog kita bisa mengambil hikmah dari apa yang telah disuratkannya. Ya Allah jauhkanlah kami dari cinta yang bukan karena-Mu... Aamiin.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar