Agustus 03, 2012

Degradasi Iman?


Secara harfiah, hakikat degradasi adalah sebuah penurunan derajat atau kedudukan. Sedangkan Iman adalah sebuah kepercayaan dalam hati yang kita aplikasikan kedalam lisan dan perbuatan. Dari definisi tersebut dapat dianalisa secara logis bahwa pada intinya, degradasi iman adalah penurunan derajat keimanan seseorang. Dari angle yang lainnya, khalayak muslim menyebut degradasi iman ini dengan istilah “futur”. Apapun istilahnya, intinya sama. Ada satu hal yang bisa dipetik dalam khasus ini. Siapapun juga bisa terkena syndrome futur…. Siapapun juga tak bisa terhindar dari intaian virus degradasi iman, meskipun dia seorang anak masjid atau seorang ulama sekalipun.
…. Attention! Iman is in high level… Iman is in low level… Iman is in high level… Iman is in low level….
Begitu seterusnya.
Yaaah… sebagai seorang hamba yang beriman, iman memang menjadi aspek penting dalam peningkatan ketaqwaan dan derajat seorang hamba di mata Rabb-nya. Masalahnya, iman itu sangat fluktuatif men… Iman itu sukanya naik turun, betul??? Tapi jangan langsung bayangin si Iman, keponakannya Pak RT yang doyan banget Panjat Tebing, lho ya!).
Kenapa iman bisa terdegradasi?
 Bisa jadi karena kita termakan oleh bujuk rayu syetan, yang lebih mengedepankan nafsu daripada akal. Kita “terlalu sering” disibukkan oleh urusan dunia. Yah, memang… “Terkadang manusia terlalu mencintai dunia daripada yang menciptakan dunia.” (Bang Jack) -> (red: PPT Jilid 6)
Contohnya? Apa yang kayak anak-anak punk ga tau aturan yang alay? Atau yang kayak preman-preman super mbeling itu???
Weeeiiitttsss…! Sabar dulu, sob… Hati-hati nih…! Beneran dah, masalah kayak gini sensitif abiz nih… Jangan bawa-bawa kata “mbeling” dulu dong… Penulis bisa tersinggung… Ntar bisa jadi berabe Kalo penulisnya ngambek, terus ga mau lanjut nulis lagi gimane? Hmmmm….!
Oke-oke… Tapi, emangnya kenapa? Apa pendapat tadi salah?
Gini nih… Kita ga boleh suudzon seperti itu dulu donk. Kalo kita men-judge seseorang tanpa tau faktanya, itu sangatlah tidak fair, bukan? Hanya Allah yang tahu segala isi hati manusia. Bukan berarti preman-preman atau “oknum yang kita sangka preman” itu beneran preman. Maksudnya, siapa tahu kalo penampilannya saja yang sangar, tapi dibalik itu, mereka ahli ibadah! Hayooooo…! Errrmmm…. Contoh lainnya: Penulis juga punya seorang temen laki-laki. Penampilannya sangar abisss… rambut panjang… pake jeans robek-robek… Tapi, masya Allah! Dia menjaga perkataan dan perbuatannya dari perempuan yang bukan mahram dan belum halal untuknya. Gak ada tuh, istilah pe-de-ka-te Islami ala mayoritas “ikhwan” jaman sekarang. Tapi ya itu tadi… Tidak semua ikhwan seperti itu. Sekali lagi, hanya Allah yang tahu isi hati manusia, coy!
Woooyyy… woooyyy…! Jangan ngelantur donk, cint. Balik ke persoalan degradasi laaahhh….!
Sabar, Buk…. Jangan salah ente. Cerita tadi juga ada kaitannya dengan apa yang akan ane bilang bentar lagi. Well, fokus ke masalah contoh degradasi iman. Kali ini  ialah kefuturan yang mendera “ikhwan” dan “akhwat” aktivis dakwah dan ahli ibadah. Cinta memang fitrah dan merupakan karunia dari Allah Sang Maha Cinta dan Pemilik Cinta. Tapi bakal bahaya berat kalo ikhwan-akhwat yang jatuh cinta “terperangkap off-side” dari luar garis syari’at. Naudzubillah… (Semoga penulis dan saudara-saudariku terpelihara dari masalah yang satu ini… Aamiin, Ya Rabb..).
Yaaa… itu tadi contoh degradasi iman yang melanda seorang hamba. Ketika syetan yang menduduki hati dan disaat nafsu menguasai ranah akal sehat.
Ooooh… ternyata memang berbahaya, ya?! So, what should we do?
Errrrmmmm… Kalo soal solusi, penulis kagak berani jawab. Masih pas-pasan ilmunya sih. Sorry sorry sorry, Jack! Tapi kalau dimintai pendapat boleh deh… Menurut pendapatku, cara yang paling tepat adalah lebih banyak mengingat Allah. Agar iman kita dikuatkan oleh-Nya, dan hati kita tenteram karena-Nya. Kita simak dulu yang yang berikut ini yukkk….:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d: 28).
Coba kita simak firman Allah yang lain….
 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat…” (Al Baqarah: 186)

“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku).” (QS. Al-Baqarah:152)

“Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah yang banyak kepada Allah(dengan menyebut nama-Nya). (QS. Al-Ahzaab: 42)
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung.” (QS. Al-Ahzaab: 35)
Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi ; “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, Aku menyebut namanya dalam diriku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari). (H.R. Bukhari dan Muslim)

Semoga hati kita selalu berlabuh pada Allah azza wa jalla dan senantiasa mengingat-Nya dimanapun dan kapanpun kita berada. Mari kita  berusaha men-stabilkan hati agar bisa meminimalkan efek degradasi iman.


Wallahu a’lam bishawab

Catatan Penting: Penulis juga sedang dilanda kefuturan, hehehe. Makanya penulis menulis artikel ini juga untuk memotivasi diri sendiri. Harap maklum  :)

Penulis bukanlah seorang yang sempurna. Mohon maaf apabila ada salah kata maupun penulisan. Dan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para pembaca, mohon saya diingatkan apabila salah… Syukran Jzk.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar