Maret 16, 2013

Dunia Dania Eps.3 : Patahnya Hati Dania

Dania memasukkan kembali album foto perpisahan itu kedalam laci. Ia mematikan komputer-nya, lalu berbaring di atas gundukan kasur yang empuk. Ia merasakan lelah yang teramat sangat. Matanya menerawang, merefleksi apa yang telah dilakukannya seharian ini. Jadwalnya begitu padat akhir pekan ini. Usai kuliah jam 10 pagi, Dania harus ikut rapat oraganisasi kampus sampai Dzuhur. Ba’da Ashar, ia baru pulang dari memberi les privat bahasa Inggris untuk salah satu siswi SMP di dekat Simpang Lima Semarang.
Tak terasa jam di dinding kamar kosnya sudah menunjukkan pukul 22.35 WIB sekarang. Ia masih saja belum bisa memejamkan mata. “Astaghfirullah…”, katanya lagi. Kegalauan hati Dania terus menggiring lamunannya pada sosok Ayyas dan kejadian yang lebih dari setengah tahun yang lalu.
6 Bulan yang Lalu…
Saat itu, ketika ia sedang mengerjakan tugas kuliah, sekitar pukul 9 malam, Hand Phone Dania berbunyi. “This is real, this is me. I’m exactly where I’m supposed to be now. Gonna let the light shine on me….”, begitu nada dering SMS HP Dania, sebuah lagu berjudul This is Me yang dinyanyikan oleh Demi Lovato. “Lagu yang jujur…”, katanya suatu ketika.
Dania memencet tombol keypad HP-nya beberapa kali dan membuka sms itu. Pesan singkat itu hanya tertera nomor tanpa ada nama pengirim. Namun sepertinya Dania mengetahui dengan jelas siapa pengirimnya. Tak salah lagi! Pengirimnya adalah Ayyas Irfan Fannani. Meskipun Dania tidak menyimpan nomor HP Ayyas, ia cukup hafal tiga digit terakhir nomor HP seseorang yang dikaguminya itu. 123. Tiga digit terakhir nomor Ayyas memang cukup mudah untuk diingat.
Hatinya berdebar. Dania seakan penasaran terhadap apa yang akan dibacanya sebentar lagi. Ia kemudian membaca pesan singkat itu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Ada apa bro?”, Dania membalas SMS Ayyash dengan kesan yang natural.
“Ga kenapa-napa. Ehh, kamu masih inget Zakky, temen kita sekelas dulu? Katanya dia pengen nikah tiga tahun lagi. Terus kak Arif dan kak Zulaika, kakak kelas kita, juga pengen nikah satu tahun lagi.”
Deggg! Rasa-rasanya jantung Dania hampir berhenti sesaat. “Kenapa nih anak, tiba-tiba ngomongin soal nikah gini? Terus apa hubungannya sama aku???”, katanya dalam hati.
“Iya, aku masih inget. Terus kenapa?”
“Kalo kamu nikah kapan, Dan?”
Deggg! Lagi-lagi Dania tersentak karena pertanyaan Ayyas.
“Belum tau, kan aku masih semester 5. Belum kepikiran sampe sana. Lagian belum ketemu sama jodohnya. Hahaha…”, balas Dania mencoba bersikap biasa. Meski dibalik itu semua, perasaan di hatinya campur aduk.
“This is real, this is me. I’m exactly where I’m supposed to be now…”. HP Dania bordering lagi.  SMS datang lagi. Dania membukanya. Masih dari Ayyas.
“Kalo kamu menungguku aja gimana? Kamu mau ga, Dan?”, Pinta Ayyas.
Hmmmmm…, Balas Dania. Ia hanya menjawab dengan gumam. Meski ia bertanya-tanya apa sebenarnya maksud Ayyas berkata seperti itu. Bercandakah? Guyon-kah? Seriuskah? Sampai sekarang pertanyaan itu hanya ia lontarkan secara “sirh” dalam hati, dan tak pernah ia pertanyakan secara “jahr” pada Ayyas. Padahal jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia mengharap keseriusan yang lebih dari Ayyas. Bahkan mungkin, tidak hanya sekedar lewat SMS. Namun secara baik-baik, lelaki itu bisa saja meminta Dania dari walinya.
Mustahil…”, kata Dania sedih sambil menghembuskan nafas.
***
Sejak balasan “Hmmmmm” dari Dania kala itu, Ayyas tak pernah lagi mengirim pesan singkat padanya. Entah kenapa. Apa dia telah menyakiti hati Ayyas? Atau Ayyas memang hanya sekedar bercanda dengan Dania saat itu? Dania juga tidak tahu. Wallahu a’lam. Meski terkadang perasaan rindu datang menyiksa. Namun tentu saja, ia harus menepisnya karena rindu yang ia rasakan saat ini tidaklah halal untuknya.
“Ayyas, aku seorang muslimah yang masih sedang belajar tentang agama. Tentunya aku tidak se-level denganmu. Lagi pula, kuliahku masih semester 5. Bagaimana mungkin aku meng-iyakan permintaanmu sementara dalam jangka waktu lama aku tidak tau apa yang akan terjadi di antara kita. Aku sangat takut jika aku menjawab ‘iya’, kita akan terjerumus dalam lembah fitnah dalam ikatan yang tidak halal. Bahkan bisa merusak kesucian hati kita, dan akhirnya malah melunturkan cinta haqiqi kita pada Allah azza wa jalla. Aku tidak mau hal itu terjadi, Yas. Sejenak aku berfikir bahwa mungkin lebih baik aku kehilangan cintamu, daripada aku harus kehilangan cinta Rab-ku. Aku yakin kamu paham syari’at yang mengatur tentang hal ini. I didn’t mean to hurt you. I thought I was not good enough for you. Seandainya kamu memintaku di saat kita telah siap, mungkin aku… ahhh! Astaghfirullah, ampuni aku ya Allah! Maafkan salah dan khilafku ini. Lagi-lagi syeitan telah menjerumuskanku dalam angan-angan panjang tiada arti.”
***
2 Tahun Kemudian…
Sudah dua tahun ini Dania tidak ada kontak dengan Ayyas. Ia mendengar kabar bahwa sekarang Ayyas menjelma menjadi sosok yang semakin agamis dan semakin mencintai Allah. Dania turut bahagia mendengar hal itu, setidaknya sebagai seorang teman. Ya, hanya teman! Bahkan, yang sempat membuat Dania terisak melelehkan air mata, ia mendengar rumor bahwa Ayyas kemungkinan akan dijodohkan dengan Syifa, teman se-organisasi Ayyas saat SMA yang juga anak dari teman dekat orang tuanya. Dania pun juga mengenal Syifa dengan sangat baik. Finally, Dania patah hati.
“Tidak apa-apa… Tidak apa-apa Ya Allah. Tidak apa-apa kalau cintaku pada salah satu makhlukmu bertepuk sebelah tangan. Karena yang paling penting bagiku adalah cintaku pada-MU tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan. Aku tahu bahwa Engkau-lah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Mu, Rabbi… Semua ini adalah ketetapan-MU, maka tenangkanlah pula hatiku juga dengan ketetapan-MU. Wahai Zat Yang Maha Cinta, Pemilik Cinta, cintakanlah aku kelak pada seseorang yang mencintaiku karena-MU dan yang kucintai karena-MU. Dan izinkanlah kami untuk saling mencintai dalam kecintaan kami terhadap-MU. Aamiin Ya Rabb…”, lirihnya…
***

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

***

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar