November 03, 2012

Touring Wonogiri: “Nampu Beach, Fantastico!!!”


Pukul 03.00 am, aku buka mataku yang masih terasa pelik. Kugerakkan langkah kakiku untuk segera mengambil air wudhu. Dingin yang kurasakan berhasil ter-kamuflase oleh sejuknya air wudhu. Subhanallah! Selang beberapa waktu, aku telah selesai menunaikan sholat Tahajjud. Hmmmm… kemudian aku melakukan persiapan beberapa barang yang akan kubawa berpetualang hari ini sembari menunggu waktu shubuh tiba. Aku sangat antusias mengemasi barang-barang. Sekitar pukul 04.05 am adzan shubuh pun berkumandang. 2 rakaat sholat fajar dan 2 rakaat shalat shubuh mengawali aktivitasku hari ini. Kemudian aku beranjak ke dapur untuk mencuci piring lalu menyapu teras. Hihihihi… (Nyregepi…!!!)


Butir waktu kian bergulir. Sebelum berangkat, kusempatkan untuk menunaikan 2 rakaat sholat Dhuha. Kuharap bisa menambah berkah hari ini, biar tambah berkah juga mbolang-nya… hehehe. Yupzzzz, hari ini Ahad, 21 Oktober 2012 kuputuskan untuk mbolang alias berpetualang sekaligus tafakur alam. Belajar tentang bentangan alam ciptaan-Nya yang senantiasa bertasbih, memuja asma-Nya. Biar iman ini ter-recharge lagi… biar galau ini enyah tak bersisa. Dan cukup Allah saja yang menunjukkan kuasa-Nya kepadaku tentang betapa besar karunia-Nya bagi umat manusia… Biar aku menyadari hal itu secara gamblang, nyata, dan kasat mata… Biar hatiku terpenuhi rasa syukur kepada-Nya. Itulah yang kuharapkan dan semoga Allah meridhoinya. Aamiin… Pukul 06.40 am aku langsung tancap gas mengendarai “Mitchie”-ku, The Red Jupiter MX – AD 5856 UN. Hehehehe…
06.50 am: aku telah sampai di Gemolong, di rumah Era Chatoer Setyorini (Era), pasangan mbolang-ku hari ini. Tak lama-lama di sana, setelah berpamitan dengan mami-nya Era kami langsung Capcusss… kemudian tiba di depan Stadion Manahan Solo pukul 07.30 am. Kami punya janji untuk bertemu di depan Manahan dengan rekan mbolang yang lain hari ini, yaitu Dian Wahyuningsih (Dian) dan Ambar Wahyuningsih (Ambar).
07.40 am: Setelah Dian dan Ambar tiba, kami langsung bergerak menuju Kota Barat untuk menghindari Car Free Day kota Solo di Minggu pagi. Namun alangkah kagetnya, kami malah terjebak macet di Lapangan Kota Barat selama sekitar 15 menit. Hal ini dikarenakan adanya event Sepeda sehat yang kebetulan diadakan oleh salah satu provider minimarket cukup ternama. Hmmmm ya sudahlah…. Idep-idep melatih kesabaran. Huhuhuhu….
Usai macet teratasi setelah kedatangan beberapa anggota polisi, kami langsung melaju menyusuri Jl. Yosodipuro, Surakarta. Tepat di bundaran Monumen Pers, kami belok kanan ke arah selatan sampai menyeberangi Jl. Slamet Riyadi. Setelah melalui perempatan Pasar Kembang, kami belok kiri ke arah Timur menuju Nonongan, kemudian lanjut beturut-turut melalui rute Solo Baru – Sukoharjo. Setelah melalui Sukoharjo, kami bertemu lagi dengan rekan mbolang yang terakhir di Gerbang Selamat Datang Kabupaten Wonogiri, yaitu Yunita Artiningtyas (Yunita). Well, personil telah lengkap! Mari kita berangkaaaaaattt….!!!
Kami pun sekarang telah memasuki wilayah dalam kota, Kota Wonogiri. Seperti tidak akan terjadi apa-apa, aku berkendara di belakang Yunita kemudian diikuti oleh Dian dan Ambar. Dan sesuatu pun terjadi…
Di perempatan Lampu merah dalam Kota, aku tidak melihat rambu lalulintas di seberang jalan. Yunita belok ke kiri, sementara aku tidak melihat nyala lampu riting di sepeda motornya. Sontak aku merasa kaget, namun aku tidak langsung belok mengikuti Yunita tapi langsung lurus. Yang terfikir saat itu adalah, takutnya nanti kalau aku belok, akan ada kendaraan lain di sisi kiri sepeda motor-ku. Itulah kenapa aku putuskan untuk jalan lurus. Namun, seketika aku menge-rem motor. Aku dan Era baru sadar bahwa kami memasuki jalan searah. Spontan, aku putar balik kemudian berbelok menghindari jalan searah. Hatiku sudah berasa deg-degan. Benar saja, ternyata ada seorang polisi dengan sepeda motor patroli mengikuti kami dari belakang. Pak polisi meminta kami untuk menepi kemudian meminta kami untuk mengikutinya. Akhirnya, seperti spekulasi yang terlintas: “Kami di-tilang!!!!”. Waaaaaaaa…. Hancur hatiku… udah sangu’ne pas-pasan… lagi bokek sisan! Ckckckckck…. Ya sudahlah… Pengalaman! Semua ada hikmahnya.
Kami diminta untuk mengikuti motor Pak polisi hingga akhirnya bermuara di Pos Polantas Dalam Kota. Setelah dimintai keterangan dan diperiksa SIM dan STNK-ku, finally 50 ribu perak pun melayang. “Enyoh, Pak…”, kataku dalam hati, setengah kecewa, setengah geli. Hihihihi…
Setelah urusan selesai dengan Pak Polisi, kami keluar dari Pos. Aku dan Era masih bingung arah mana yang benar untuk menghindari jalan searah. Padahal saat itu setelah aku menelfon Yunita, dia, Dian dan Ambar sudah berposisi di dekat Bendungan Gajah Mungkur. Akhirnya aku masuk lagi ke dalam pos polisi.
“Kenapa, mbak?”, kata Pak polisi berkaca mata hitam yang tadi me-nilang kami.
“Pak, ga tau jalannya tu Pak….”, kataku melas. Wkkkk…
“Itu nanti dari bangjo belok ke kiri terus ke kanan terus lurus aja, mbk.”, sahut polisi satunya yang terlihat lebih sangar.
Aku diam sejenak.
Melihatku diam seperti ini. Polisi satunya berkata:
Yo, tak terke wae yo…. Ngko nek malah bingung…”, katanya lembut.
Hahahaha… aku tertawa dalam hati.
Kemudian kami diantar untuk menghindari jalan searah. Setelah menghindari searah Pak polisi menepi dari jalan, dan kami pun mengikutinya. Seraya menengok ke belakang, pak Polisi berkata:
“Sudah mbak, nanti setelah melewati PLTA langsung belok kanan aja…”
Nggih, Pak. Matursuwun nggih, Pak…”, kataku dan Era serentak.
“Sama-sama, mbak…”
Setelah itu pak Polisi pergi meninggalkan kami, dan aku pun segera menarik gas mengejar ketertinggalan posisi kami dari trio Yunita, Dian dan Ambar dengan kecepatan hampir 80 km/jam (karena track yang kami lewati penuh tikungan sehingga tdk bisa ber-kecepatan tinggi).
Tak lama kemudian aku dan Era kembali bertemu dengan Trio Yunita di sebuah toko kosong. Sepertinya mereka sudah lumayan lama menunggu kami. Kami ber-lima pun segera beranjak menancap gas, setelah mereka bertiga manghabiskan bubur ayam yang mereka makan sembari menunggu kedatanganku dan Era.
Perjalanan panjang pun segera dimulai kembali. Setelah melewati objek wisata bendungan Gajah Mungkur, berturut-turut kami melewati Pracimatoro – Eromoko – Giri Belah – Parang Gupito – Pantai Nampu. Kali ini jalur yang kami lalui cukup sulit dan menantang. Kami harus melewati jalan terjal, beraspal namun banyak badan jalannya yang sudah rusak sehingga jika tidak hati-hati bisa tergelincir. Tikungan dan tanjakan tajam selalu menanti di setiap track selalu menanti, apalagi saat sudah mendekati pantai. Total tanjakan curam yang kami lewati mencapai 17 tanjakan, mungkin lebih. Itu pun yang kami hitung hanya tanjakan kategori berat/ curam. Belum tanjakan ringan/ landai.
Tapi sungguh perjuangan kami tidak sia-sia! Saat kami memarkirkan motor dan menuruni anak tangga untuk menuju pantai yang berada di balik tebing, kekaguman akan kekuasaan Allah azza wa jalla sudah tak bisa ter-elakan lagi. Subhanallah! Maha besar Allah atas segala kuasanya. Allahu akbar!!! Bibir pantai yang bersih dengan kombinasi pasir putih dan tebing karang, manis-nya warna hijau pepohonan di atas tebing, lumut cantik yang menghiasi karang… serta air laut yang jernih pun berhasil berkamuflase menjadi warna biru bercampur dengan hijau tosca. Terlihat semakin apik dan sempurna dengan payungan langit berhiaskan awan cerah. Meski saat itu suhu dan panas matahari sangat terik. Subhanallah! Nampu Beach, Fantastico! (jeritku dalam hati). This is the most beautiful beach that I’ve ever seen! Subhanallah! Tak ada keraguan dalam hati kami untuk mengakui nikmat dan kebesaran-MU, Rabbi…
Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). (Ar Rahman: 6-7)
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar Rahman: 13)


Catatan Kecilku tentang kamu, Nampu:

·         Errrmmm... mgkn sejuta rangkaian majas hiperbola tak bs mengungkapkan apa yg aku rasakan...
indah suasana, bersih bibir pantai, dan biru tosca air laut sungguh tiada terkira pesonanya. ditambah Lg dg sepinya pengunjung krn pantainya msh blm ter-ekxplore scr maksimal. Berasa punya pulau pribadi di tengah samudera pasifik! hihihihi....
#pokoknya pesona pantai nampu sgt luar biasa. ermmm 11-12 deh sama pantai pasir putih, pulau nusa kambangan. Subhanallah…!

·         Look around yourselves
Can’t you see this wonder
Spreaded infront of you
The clouds floating by
The skies are clear and blue
#Open Your Eyes by Maher Zain

·         hmmm... prjalanan kmren PP 8 jam gabugan-gemolong-solo-sukoharjo-wonogiri-Gn.Kidul cuma habiz 5 liter. Mitchie emg super ngirit! :D
·         sampe di rumah Era pukul 17.50, sampe rumah jam 18.10 (karena dah malem, kecepatan hanya sktr 40km/jam), langsung sholat Maghrib.
·        Alhamdulillah...
merci, ya Allah...
hari ini Kau tunjukkan Lg betapa besar Kuasa-MU...
thank YOU 4 everything...
langit dan samudera yg membiru... completely nice!
meski bentangan sawah tdk se-tosca yg kukira, krn hbz panen jd warnanya cokelat... hehehehe... tp tetep, completely nice!
nice advanturing!
meski sempet di-tilang pak polisi... wkwkwkwk…

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar